18 July 2026
•
Admin_ITKK
Dosen ITKK Berkolaborasi dengan APKSKK dan YPSDKK Tingkatkan Pemahaman Petani Sawit tentang Pemupukan Berbasis Analisis Tanah dan Daun
Sintang, 17 Juli 2026 – Dosen Program Studi Agroteknologi Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), Flavianus, S.P., M.P., berkolaborasi dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Keling Kumang (APKSKK) dan Yayasan Pemberdayaan Sumber Daya Keling Kumang (YPSDKK) dalam kegiatan interpretasi hasil analisis tanah, analisis daun, serta penyusunan rekomendasi pemupukan kelapa sawit. Kegiatan yang dilaksanakan di Keling Kumang Agro, Desa Penyangkak, Kabupaten Sintang, pada Jumat (17/7/2026) ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan diikuti oleh para petani anggota APKSKK dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola kesuburan tanah serta menerapkan pemupukan berdasarkan data ilmiah. Melalui pendampingan ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya hasil analisis laboratorium sebagai dasar dalam menentukan kebutuhan pupuk yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Sebagai narasumber, Flavianus, S.P., M.P. memaparkan materi mengenai interpretasi hasil analisis tanah dan daun kelapa sawit. Materi yang disampaikan meliputi tingkat keasaman (pH) tanah, kandungan unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), kapasitas tukar kation (KTK), hingga pengaruh sifat tanah terhadap penyerapan unsur hara oleh tanaman.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya analisis daun sebagai indikator status hara tanaman. Analisis daun menunjukkan unsur hara yang benar-benar telah diserap tanaman sehingga dapat dipadukan dengan hasil analisis tanah untuk menghasilkan rekomendasi pemupukan yang lebih tepat sasaran.
Berdasarkan hasil analisis laboratorium, diketahui bahwa setiap kebun memiliki karakteristik kesuburan tanah dan kebutuhan hara yang berbeda. Oleh sebab itu, rekomendasi dosis pupuk disusun secara spesifik sesuai kondisi masing-masing lahan. Jenis pupuk yang direkomendasikan meliputi Urea sebagai sumber nitrogen, SP-36 sebagai sumber fosfor, KCl sebagai sumber kalium, serta dolomit untuk memperbaiki kemasaman tanah dan meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan berbagai diskusi dan tanya jawab. Para petani membagikan pengalaman mereka dalam praktik pemupukan di lapangan, kemudian membandingkannya dengan hasil analisis laboratorium sehingga memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai alasan perbedaan kebutuhan pupuk pada setiap kebun.
Dalam pemaparannya, Flavianus, S.P., M.P. menegaskan bahwa keberhasilan pemupukan tidak ditentukan oleh banyaknya pupuk yang diberikan, melainkan oleh ketepatan dalam menentukan jenis, dosis, waktu, dan cara aplikasi sesuai kebutuhan tanaman.
«"Pupuk yang tepat adalah pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, bukan pupuk yang diberikan sebanyak-banyaknya atau hanya mengikuti kebiasaan maupun praktik di kebun tetangga. Dengan menerapkan prinsip tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat cara aplikasi, penggunaan pupuk menjadi lebih efisien, kesuburan tanah tetap terjaga, serta produktivitas kelapa sawit dapat meningkat secara berkelanjutan," ujar Flavianus.»
Kolaborasi antara ITKK, APKSKK, dan YPSDKK diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui penerapan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian di lapangan, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas petani dalam menerapkan praktik budidaya kelapa sawit yang produktif, efisien, dan berkelanjutan sekaligus mempertegas komitmen ITKK dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.